Friday, October 20, 2017

UNTUKMU SANG PEMIMPI





Tentang mimpi. Semua orang pastilah mempunyai mimpi. Ada yang pernah dengar istilah "Dreams becomes true"? Percaya akan mimpi yang menjadi nyata. Aku sendiri percaya akan mimpi.

Dulu sewaktu masih di bangku SMA, aku pernah berceloteh kepada kawanku tentang cita-cita. Mimpi menjadi seorang jurnalist dan keinginan untuk setidaknya dapat bertemu dengan wartawan. Entah mengapa aku tertarik sekali dengan dunia jurnalistik. Bagiku mengeponi orang, dapat mengabarkan sebuah berita dan bertemu dengan orang-orang penting adalah KEREN!!!

Sejak saat itu aku berkeinginan untuk dapat kuliah di jurusan komunikasi ataupun jurusan broadcasting. Namun namanya orang tua yang sayang akan anaknya dan memikirkan masa depan anaknya, tak mengijinkanku utuk kuliah di jurusan tersebut. Aku pikir dengan aku kuliah keguruan yang sekarang ini tak dapat menghantarkanku untuk melanjutkan mimpi tersebut.

Namun percayalah, Allah tak pernah tidur untuk mendengar setiap mimpi-mimpi hamba-Nya. Awalnya, ku kira mimpiku itu semua hanyalah bunga tidur.  Namun siapa sangka, walaupu aku kuliah di Universitas keguruan, aku tetap dapat melanjutan mimpiku tersebut. Pintu untuk masuk ke mimpiku  mejadi sedikit terbuka. Setelah  aku masuk di salah satu organisasi kejurnalistikan, lembaga pers mahasiswa, LPM Vokal. Dan tentunya aku bertemu dengan para jurnalis maupun awak media.

Dengan lisensi sebagai jurnalist maka otomatis mempunyai akses khusus untuk bertemu dengan orang-orang penting. Dan aku telah mengalaminya sendiri.



 *ngepoin Yuliana Kristin (2016)



*Aku sama Susi Susanti (2016)
 


Dan mimpi untuk bertemu dengan wartawan pun alhamdulillah juga nyata, dan bahkan dapat memoderatorinya. Heheee

*Menjadi moderator Girindra Wardhana
 (wartawan senior I-News TV) di PJTM LPM Vokal (2017)



*Menjadi moderator Achiar M. Permana  (wartawan Tribun Jateng)
di Workshop Menulis Kreatif BEM FIP Universitas PGRI Semarang 2017





Percayalah bahwa setiap mimpi itu memiliki bagiannya tersendiri untuk menjadi nyata. Tetap berusaha dan terus berdoa. ~


Demak, 21 Oktober 2017



Thursday, August 24, 2017

BUDAYA TRADISI DEMAK



BUDAYA TRADISI DEMAK

Demak merupakan sebuah Kabupaten yang terletak diantara 6 ͒ 43′ 26''– 7 ͒ 09′ 43''  LS, dan 110 ͒ 27′ 58''- 110 ͒ 48′ 47'' BT, sekitar 25 km di sebelah timur Kota Semarang. Dilalui jalan negara (pantura) yang menghubungkan Jakarta – Semarang – Surabaya – Banyuwangi. Dengan  luas wilayah Kabupaten Demak adalah 89.743ha, pada ketinggian antara 0 – 100 M dari permukaan laut.
Demak dahulunya merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau jawa , disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak juga sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada.
Berbicara mengenai pariwisata yang ditawarkan Kabupaten Demak tentunya tak lepas kaitannya dengan Sunan Kalijaga, seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Tak heran jika Kabupaten Demak mendapat julukkan sebagai Kota Wali.
Ada beberapa obyek wisata utama di Kabupaten Demak yaitu : obyek wisata religi Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijaga Kadilangu, Pantai Morosari , Taman Ria, Grebeg  Besar, Penangkaran Burung Hantu, Mangrove, dan kampung wisata Mlati Harjo.
Sama halnya dengan tradisi yang sekaligus menjadi obyek wisata yang ditawarkan seperti Kota Solo dan Jogja, Kabupaten Demak juga mempunyai tradisi kirab budaya  yang diselenggarakan tiap tahun sekali dalam rangkaian Hari Raya Idul Adha (Qurban) atau yaang biasa dikenal dengan Grebeg Besar. Perayaan Grebeg Besar dimaksudkan sebagai tradisi penghormatan dan rasa syukur atas perjuangan para leluhur, khususnya sehubungan kegiatan syi’ar Islam yang dilaksanakan walisongo terutama Sunan Kalijaga.
Proses perayaan Grebeg Besar diawali dengan saling bersilaturrahmi antara pihak Kasepuhan Kadilangu dan Bupati Demak. Diawali kunjungan Bupati ke Sasono Renggo Kadilangu. Selanjutnya Sesepuh Kadilangu dan keluarga kasepuhan bersilaturrahmi menemui Bupati dan biasanya mereka diterima di ruang tamu Bupati. Usai silaturrahmi tersebut, Bupati dan Wakil Bupati bersama Ketua DPRD, Muspida Demak dan jajaran Pemerintah Kabupaten Demak ziarah ke makam para leluhur Sultan Bintoro di kompleks Masjid Agung Demak, dilanjutkan ziarah ke makam Sunan Kalijaga di desa Kadilangu. Setelah itu Wakil Bupati beserta unsur DPRD dan Muspida meresmikan pembukaan keramaian Grebeg Besar di lapangan Tembiring Jogo Indah. Setelah itu dimulailah masa-masa ramai di antero Demak Kota, khususnya di segitiga kawasan terminal wisata Tembiring, alun-alun dan Kadilangu.
Kemudian pada malam menjelang Idul Adha diadakan acara Tumpeng Sembilan yang menggambarkan jumlah 9 wali (walisongo), kepada Takmir Masjid Agung Demak untuk dibagikan kepada para pengunjung. alam acara tumpeng sembilan selalu dipenuhi oleh warga masyarakat yang ingin “ngalap berkah” dengan mengharap mendapat bagian dari tumpeng yang dibagikan tersebut.
Tepat pada tanggal 10 Dzulhijjah diadakan acara penjamasan Kotang Ontokusumo yang dimulai setelah selesai Sholat Idul Adha. Penjamasan dimulai dari pendopo Kabupaten Demak dengan penyerahan minyak jamas oleh Bupati Demak kepada Manggala Prajurit yang akan dengan dikawal Prajurti Patang Puluhan. Bupati sekeluarga beserta para pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Demak turut mengantar minyak jamas dengan naik kereta kencana. Sesampainya di Kadilangu, minyak jamas diterima oleh Sesepuh Kadilangu, selanjutnya digunakan untuk menjamas Kotang Ontokusumo dan Keris Kyai Crubuk.
Khusus untuk acar penjamasan Kotang Ontokusumo melalui prosesi arak-arakan Prajurit Patang Puluhan yang berjalan dari Pendopo Kabupaten Demak menuju Kadilangu sejauh 2,5 km, merupakan hiburan yang paling menyedot perhatian masyarakat, karena sepanjang perjalanan yang Patang Puluhan, selalu penuh oleh masyarakat yang ingin melihat dari dekat iring-iringan tersebut.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui prosesi Grebeg Besar merupakan media hiburan rakyat yang murah meriah untuk menghilangkan sejenak kepenatan menjalani rutinitas sehari-hari.

Referensi :


Demak, 24 Agustus 2017

Wednesday, July 12, 2017

CERITA DARI BALI



CERITA DARI BALI

Ada yang berbeda di semester 4 kali ini, pasalnya khusus untuk mata kuliah Study Explorasi diadakan perjalanan karya wisata ke Pulau Dewata. Mengapa pada judul  terangkai kata jilid 2, karena ini bukan kali pertamanya aku ke Bali. Sama seperti empat tahun silam, waktu di Sekolah Menengah Atas (SMA) pun  juga karyawisata ke Bali. Mungkin kali ini yang membedakan adalah karena ada embel-embel status sebagai mahasiswa. Walaupun namanya karyawisata bukan berarti melalaikan tugas tetap saja ada tugas yang menanti sebagai tugas akhir mata kuliah Study Explorasi. 

Hampir satu hari lamanya waktu yang dibutuhkan untuk tiba di Bali. Melewati jalur darat dan laut. Terombang-ambing diatas laut dari Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk. Satu hal yang tak aku sukai saat berpergian ke suatu tempat secara rombongan adalah masalah menunaikan kewajiban lima waktu dan mandi. Terkadang karena keterbatasan waktu yang mepet, acapkali untuk menunaikan sholat dilalaikan dan bahkan ditinggalkan. Terlebih lagi waktu sholat Subuh. Seperti halnya kemarin setibanya di Bali, pertama kali menginjakkan kaki di tanah Bali terlebih dahulu transit di salah satu rumah makan, waktu untuk sholat pun tergadaikan dengan waktu antri untuk mandi. Dan jikapun ingin mengganti sholat Subuh, kemungkinan akan ditinggal rombongan bus. 

Terkadang juga agak dibuat bimbang dengan pilihan  antara pilihan untuk sholat dulu namun akan mendapat makanan sisa, atau makan dulu namun waktu sholat akan terlalaikan. Untungnya alhamdulillah kemarin aku halangan jadi sedikit tidak terbebani. Namun walaupun sedang dalam keadaan kedatangan tamu, bukan berarti dapat sesuka hati melakukan apapun selama di Bali. Mengingat dalam keadaan tidak suci, perlu menjaga apapun tingkah laku selama berada di Bali termasuk tidak sembarangan membuang sesuatu di sembarang tempat.

Destinasi wisata yang ditawarkan Bali cukup banyak dan beragam. Namun kali ini, objek pertama kali di hari pertama yang dituju adalah Tanah Lot. Di Tanah Lot kita akan disuguhkan pemandangan laut yang dibatasi karang yang terjal dan ombak yang lumayan besar. Di Tanah Lot juga kita dapat menemui ular putih penjaga Tanah Lot. Bagi siapapun yang ingin melihatnya dipersilakan gratis tanpa dipungut biaya. 


Destinasi wisata selanjutnya  setelah Tanah Lot adalah Danau Bedugul dan sekaligus makan siang. Di Danau Bedugul sendiri kita dapat menyewa perahu untuk menuju Pura Ulun Danu. Berdasarkan legenda tentang asal mula nama Danau Bedugul yang beredar di masyarakat Bali ada yang menarik tentang alat kelamin pria. Maka itulah jangan heran mengapa sampai ada gantungan kunci menyerupai alat kelamin pria.
Tak sampai di situ saja, destinasi wisata yang belum tertuju masih banyak. Selesai di Danau Bedugul maka destinasi selanjutnya adalah menuju outlet Jogger. Siapa yang tak kenal Jogger? Belum lengkap rasanya jika ke Bali tak membeli oleh-oleh di Jogger. Namun perlu diingat bisa saja kita mendadak miskin di Jogger. Karena kehilangan berlembar-lembar uang. Terlebih lagi untuk emak-emak yang dasarnya suka kalap. Bisa-bisa kena struck. Karena untuk tiga potong baju saja bisa untuk membayar kos satu bulan. Saran aku sih, sebelum meginjakkan kaki di Jogger ada baiknya membuat list atau daftar berapa baju yang akan dibeli atau membatasi berapa uang yang akan dibelanjakkan di Jogger.

Destinasi terakhir di hari pertama adalah Pantai Kuta. Sayangnya kemarin setibanya di Pantai Kuta tidak bisa melihat keindahan matahari terbenam atau istilah bekennya sunset. Alhasil yang terlihat hanyalah semburat-semburat jingga di langit. 

 
Senja di Pantai Kuta

Sebelum menuju ke hotel, ada dhahar malam di Krisna. Untuk hari ketiga ada lima destinasi wisata. Destinasi yang pertama setelah beranjak dari hotel adalah Museum Perjuangan Rakyat Bali. Berhubung karena ini juga ada tanggungan tugas dari mata kuliah Study Explorasi, maka ada sebagian mahasiswa yang ikut seminar di ruang Museum Brajasandi.


Museum Perjuangan Rakyat Bali
*Ada akunya yang cantik :=))

Setelah itu menuju pertujukkan Tari Barong. Dan dilanjutkan menuju Dewata. Sama seperti di Jogger, sebelumnya harus membuat list apa saja yang akan dibeli. 
 Sekitar pukul 17.30 WIB rombongan Study Explorasi PGSD 2015 bertolak menuju Pantai Jimbaran untuk  makan malam di tepi laut dan sekaligus makrab.  

 
Makrab di Pantai Jimbaran

Hari terakhir sebelum pulang, destinasi yang dituju adalah Pasar Seni Sukowati. Jangan tanya berapa banyak uangku yang hilang disana. Bagiku uang habis banyak tak apa, asalkan digunakan untuk membelikan oleh-oleh untuk orang-orang di rumah yang menantikan kepulangan kita dengan selamat.
Dan akhirnya untuk tanggal 25 Mei sekitar pukul 08.00 WIB akhirnya mendarat dengan selamat di rumah. Dan dijemput oleh mamas tersayang yang unccchh wkwkwkwkwk.


Semarang, 12 Juli 2017