Sunday, October 24, 2021

DARI LASKAR ISMAYA KE LOKA JAYA

Dari Laskar Ismaya ke Loka Jaya. Alhamdulillah 2 tahun sejak 10 Oktober 2019 sampai 10 Oktober 2021 membersamai kawan-kawan dari Loka Jaya. Dari cerita A sampai Z ada semua. Mulai dari susah, seneng, tangis semua telah terlewati bersama-sama.

Belajar banyak hal dari kawan-kawan Loka Jaya. Belajar tentang solidaritas yang tinggi, kekompakan, sikap dalam menghadapi masalah dan berbagai hal lainnya.

 

Dinamika berorganisasi selama di Loka Jaya lebih berat dan susah dibanding berorganisasi di kampus. Hambatan dan masalah ketimpangan dan benturan dari berbagai pihak baik dari internal maupun eksternal. Namun, yang patut dibanggakan adalah ketangguhan dari kawan-kawan Loka Jaya. Walaupun sering mendapat cemoohan, paidonan, dan sering dijatuhkan di depan namun dibanggakan dan di aku-akui di belakang sudah sering kawan-kawan Loka Jaya hadapi. Salut dengan semangat dan solidaritas nya.

 

Tanpa kalian,

Aku, kita dan Loka Jaya mungkin tidak akan seperti sekarang.

Tetap solid dan kompak selalu.

Sayang kalian.

 



 

 

 

Demak, 24 Oktober 2021

 


Thursday, October 21, 2021

JUKNIS JALAN SEHAT AGUSTUSAN 2021

Tahun 2021 ini, merupakan tahun ketiga keikutsertaanku dalam acara tahunan setiap bulan Agustus. Dari acara Jalan Sehat 2019, Turnamen Voli dan Turnamen Mobile Legend 2020, dan Agustusan Jalan Sehat 2021. Berbekal pengalaman organisasi di kampus dan keikutsertaanku sebagai panitia di beberapa event-event kampus setidaknya dapat berkontribusi dalam acara di desa.

Dengan kekompokan dan kesolidan dari teman-teman Loka Jaya acara alhamdulillah berjalan dengan lancar dan meriah. Dan dapat dikatakan acara desa seperti acara di kota-kota. 

Hal pertama yang harus dipersiapakan adalah membentuk tim inti baru kemudian tim panitia. Di Loka Jaya aku memilih 5 orang sebagai tim inti termasuk aku. Biasanya kita namakan Tim Huru Hara. Di tim ini tugas yang utama adalah untuk membahas jalannya acara dan hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan.

Di mulai dari pembahasan dana. Karena dana adalah hal yang paling penting tidak ada dana maka tidak ada akomodasi yang dapat dijalankan.

 

Dana didapat dari :

1. Khas Loka Jaya

2. Sumbangan / Sponshorship

3. Penjualan Kaos

 

Menentukan Waktu, Tempat 
Hari, Tanggal : Minggu, 29 Oktober 2021

Waktu             : 06.30 WIB

Tempat           : Lapangan Dukuh Ngrandu, Ngelowetan

Pemilihan waktu dan tempat perlu dilakukan survei. Awalnya Jumat. Berhubung hari kerja dan banyak anak-anak yang sudah masuk sekolah maka waktu diundur Minggu. 

Menentukan Rute : Lapangan Ngrandu - Ngrandu - Lapangan Ngrandu 

Pembentukan Panitia

1. Ketua

2. Wakil Ketua

3. Sekretaris

4. Bendahara

5. Sie

Sie Humas : 

    Mempersiapkan dan mengantarkan surat undangan untuk tamu  

        undangan (Lurah, Sekretaris Desa, Bhabinsa, 

        dan Bhabinkamtibmas)

    Mengofirmasi kehadiran tamu undangan bisa hadir atau tidak, 

        karena nantinya berkaitan dengan  konsumsi yang dibutuhkan


Sie Sponshor : 

    Mengajukan sponshorship
    Menarik sumbangan para donatur berkililing desa

 

Sie Acara : 

    Membuat dan mempersiapkan rundown acara

    Berkoordinasi dengan Korlap sepanjang berlangsungnya 

        acara dari awal sampai selesai

    Memilih hiburan : Dangdut dan Barongan

 

Sie Konsumsi : 

  Mengurus konsumsi untuk panitia, tamu undangan dan 

       pengisi hiburan

 Snack + minum = tamu undangan, pengisi hiburan

 Roti + es   = panitia

 Makan siang (nasi tumpeng) = di makan bersama setelah selesai acara, panitia dan  pengisi hiburan

Rokok untuk panitia

  Berkoordinasi dengan Humas, Acara dan Korlap berapa 

      jumlah total panitia yang ikutdan berapa jumlah tamu 

      undangan yang hadir

 

Sie Administrasi : 

    Mengurus kupon

    MMT

    ID Card

    Surat Undangan

    Pamflet

 

Sie Korlap : 

    Mengkondisikan peserta jalan sehat selama acara berlangsung 

         sampai selesai

    HT

    Pembagian kupon (4 orang) di pos 1

    Pengguntingan kupon (8 orang) di pos 2

    Parkir


Rundown Acara

WAKTU

KETERANGAN

05.30 – 06.00

Persiapan panitia

06.00 – 06.30

Breefing dan Doa Bersama

06.30 – 06.45

Sambutan Ketua

06.45 – 07.00

Sambutan Kepala Desa

Pembukaan Jalan Sehat 2021

07.00 – 09.00

Jalan Sehat

09.00 – 09.15

Pengkondisian peserta dari jalan sehat

09.30 – 11.00

Pembagian hadiah

Serok (4)

Susuk (4)

Sikat WC (4)

Wadah Sendok (4)

Engkrak (4)

Wajan (4)

Baskom (4)

Tempat sampah kecil tutup (4)

Tempat sampah besar (4)

Rak (4)

Teko kecil (8)

Teko besar (2)

Gayung (4)

Hanger (7)

Panci (4)

Panci Mie (3)

Sapu (4)

Tikar (4)

Topi warna (14)

Tas Anak (7)

Tas Dewasa (10)

Celana XL (2)

Celana XXL (5)

Kaos L (5)

Kaos XXL (4)

Dompet

Tas slempang

Kemeja

Jam tangan

Lampu

Kipas Angin Kecil

Blender

Sterika

Dispenser

Kipas Angin Besar

11.00 – 12.00

Hiburan

13.00

Sayonara

13.00 - Selesai

Makan siang Panitia




Panitia Agustusan Jalan Sehat
 Karang Taruna Loka Jaya Desa Ngelowetan 2021


Saturday, July 31, 2021

JULIKU DI 2018

Ku kira semuanya akan sama saja. Namun, semesta berkehendak lain. Badai pasti akan berlalu dan akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada tawa bahagia setelah tangis 



Temanggung bercerita.

Demak, 31 Juli 2021
Di ujung malam.

Tuesday, March 16, 2021

KEHIDUPAN DI RANTAU

 Tak terasa hampir dua tahun berlalu, meninggalkan kota yang penuh kenangan. Kota yang di mana banyak menyimpan sederet kisahku mulai dari yang sedih, tangis, tragis, susah, sekarat, senang, bahagia, dan sampai menjadi manusia bucin sudah terlewati. Agustus 2015 menjadi permulaan kisahku hidup di rantau, Semarang. Kali pertama harus hidup mandiri jauh dari orang tua, dan harus bisa mengurus keperluan hidup sendiri. 

Awal semester pertama hidup sendiri di kos agak sulit bagiku untuk menyesuaikan dan beradaptasi. Terlebih di saat aku belajar untuk beradaptasi dan menyesuaikan hidup, aku harus dihadapkan pada kondisi yang memaksaku untuk belajar mengikhlaskan seikhlas-ikhlasnya, untuk tidak berharap kepada manusia dan belajar untuk tidak mudah percaya kepada orang lain.

Semester pertama aku cukup kesulitan dalam menyesuaikan hidup secara mandiri mulai dari susahnya mencari makan, susahnya mencari kos yang cocok hingga susahnya transpot dari kos menuju kampus karena di awal semester aku belum berani membawa kendaraan pribadi. Di semester awal pun aku sudah berpindah kos sebanyak tiga kali. Pertama di Krakatau, kedua di Hawa dan ketiga kalinya di Pancakarya. Aku bukanlah tipe orang yang dengan mudahnya beradaptasi dengan orang lain terlebih berbagi kehidupan dengan orang lain. Kos pertama di Krakatau, sekamar berdua membuatku tidak nyaman. Di samping teman kosku yang selalu meminjam barang dan memakai barangku tanpa seizin dariku juga karena aku tidak bisa berkosentrasi belajar jika sewaktu mengerjakan tugas teman sekamar dengan seenaknya malah berisik sendiri. Kedua pindah ke Halmahera untuk sementara waktu hingga menemukan kos yang satu kamar satu orang. Setelah satu bulan di Halmahera aku pindah ke Pancakarya.

Alhamdullillah untuk di kos ketiga Pancakarya sekamar satu orang, dipertemukan dengan teman-teman kos yang baik. Dan bahkan masih berkomunikasi hingga saat ini. Salah satunya yang biasa ku panggil Tante Dea. Satu setengah tahun bertahan di kos Pancakarya. Sampai pada akhirnya November 2017 penghuni kos tidak tahan dengan kebijakan kenaikan tarif kos perbulannya dan setengah dari total penghuni kos memutuskan untuk pindah kos. Hingga tersisa empat orang termasuk aku di lantai 2. Horornya bukan main suasananya ditinggal penghuninya pindah. Satu bulan kemudian teman yang berada di lantai 2 juga memutuskan untuk pindah dan  akhirnya aku juga pindah.

Setelah beberapa kali hidup nomaden berpindah-pindah dan merepotkan mamasku buat pindahan barang akhirnya aku menemukan kos yang bener-bener nyaman di kos terakhir dan paling terlama, di Halmahera. Total selama kuliah aku sudah berpindah kos sebanyak empat kali.

Awal Desember 2017 aku pindah ke kos Halmahera. Hanya ada sembilan kamar. Satu kamar satu orang. Para penghuninya sudah seperti keluarga walaupun kadang timbul pertikaan dan percekcokan di antara teman-teman kos dari masalah sepele hingga masalah besar. Selama kuliah aku jarang sekali berada di kos. Mengingat aku aktif di dua organisasi sebagai sekretaris BEM Fakultas dan bendahara LPM Vokal. Hal itu membuatku pulang ke kos hanya untuk numpang mandi, makan dan sisanya beberapa jam untuk tidur. Namun di akhir Desember 2017 ku putuskan untuk berhenti mengabdi di BEM Fakultas dan LPM Vokal.

Kehidupanku sebagai mahasiswa bisa dikatakan sama dengan rata-rata kehidupan mahasiswa lainnya. Namun, yang sedikit membedakan aku adalah mahasiswa tipe kaum rebahan yang banyak overthingkingnya. Memasuki semester kedua di 2016 aku menargetkan beberapa hal yang harus aku capai dalam waktu setahun. Namun itu malah membuatku semakin tertekan dan terbebani dengan semua targetku ditambah dengan aku harus melewati masa-masa sulit untuk mengikhlaskan dan menerima kenyataan.

Di semester ketiga masih di November 2016 ketika aku memutuskan untuk mendaftar sebagai panitia Panwaslu membuatku bertekad untuk dapat lebih menguasai publich speaking lagi karena melihat kakak tingkat yang dengan wibawanya dalam menyampaikan pendapat dan berdebat dalam salah satu kasus di PEMIRA 2016. Dari pengalaman menjadi Panwaslu sekelas PEMIRA Universitas membuat mataku terbuka lebar bahwa politik sangatlah licik. Di mana yang lemah akan kalah, dan yang licik akan menang. Ada beberapa situasi menegangkan terlebih lagi pada saat malam final perhitungan suara. Entahlah aku juga bingung kenapa bisa sampai ada kejadian huru hara di malam itu karena yang pasti ada ikut campur salah satu organisa eksternal kampus yang masing-masing membentengi para calon Presma dan Wapresma.

Kesibukanku sewaktu kuliah selain aktif di BEM Fakultas dan LPM Vokal juga sibuk kuliah, mengerjakan tugas kuliah, dan kadang beberapa kali mengikuti seminar ataupun workshop seperti mahasiswa lainnya. Suatu ketika di 24 September 2017 aku mengikuti LDKTI yang diselenggarakan oleh HIMA Prodi. Banyak ilmu yang aku peroleh dari acara tersebut yang vibesnya masih ke pake sampai sekarang ini. Di satu sesi pemateri pernah mengatakan bahwa “menulis dapat meringankan kesemrawutan pikiran, kegundahan hati dan dapat menimbulkan kepuasan batin.” Dan itu benar sekali. Dengan menulis kita dapat menyalurkan dan mengurai pikiran kita, apalagi seperti aku tipe orang yang overthingking.

Beberapa waktu setelah dari acara itu aku mencoba mengirimkan tulisanku ke surat kabar harian Kompas yang sebelumnya sudah menjadi targetku di tahun 2017. Dan pada akhirnya di bulan Oktober 2017 bertepatan dengan wisudanya salah satu anggota LPM Vokal aku dikejutkan dengan share an di grup LPM Vokal yang mengabarkan bahwa tulisanku lolos termuat di Koran Kompas Nasional. Alhamdulillah bersyukur banget senangnya bukan main sampai terharu.  Masih di bulan Oktober aku juga mengikuti seleksi pemilihan Ayah Bunda PGSD mewakili kelas sampai ke tahap dua dan akhirnya gugur di sesi photoshot. Sudah kuduga. Dan di bulan ini benar-benar sibuk dalam mengurusi persiapan acara besarnya BEM Fakultas yang kudu bolak balik ke Dinas Pendidikan Jawa Tengah. Saat itu aku sedikit merasa tertekan dengan masalah persiapan acara besarnya BEM Fakultas, organisasi dan tugas kuliah. Ditambah lagi di akhir kepengurusan 2017 aku terbebani dengan segera harus merampungkan LPJ BEM Fakultas sebagai sekretaris  dan LPJ LPM Vokal sebagai bendahara.

Sebulan kemudian di November 2017 aku masih saja disibukkan dengan kegiatan organisasi dan kegiatan persiapan acara kelas di tingkat prodi. Masih di acara besarnya BEM Fakultas aku menjadi MC. Di akhir 2017, Desember pada Mubes LPM Vokal 2017 aku berpamitan untuk tidak melanjutkan ke periode selanjutnya dan pada Konferensi BEM Fakultas aku juga tidak melanjutkan ke periode berikutnya. 

Di akhir 2017 memang menjadi waktu yang paling menguras tenaga, pikiran dan emosi. Pernah sewaktu latihan untuk pagelaran seni musik PGSD aku berdebat dengan salah satu teman kelas yang naudzubillah dengan wataknya. Jauh-jauh hari aku sudah izin ke forum kelas untuk tidak berangkat karena akan mengikuti Konferensi BEM Fakultas, dan itu disetujui. Namun, pada waktu mendekati Konferensi BEM Fakultas ada satu orang yang dengan ngototnya membuat kebijakan dengan menerapkan denda bagi yang tidak berangkat latihan musik. Di saat itu aku benar-benar merasa sendiri untuk speak up tentang kebijakan yang semena-mena dibuatnya tentang masalah denda karena teman-temanku tidak berani untuk menyanggah omongannya. Tidak ada satupun yang berusaha untuk membantuku dalam menyanggah omongannya. Dan pada akhirnya aku dan beberapa temanku yang juga izin mengalah menerima keputusan untuk denda. Aku anggap itu sebagai sedekahku. Di bulan yang sama pun orang yang sama juga berdebat dengan orang yang sama-sama memiliki watak keras di kelas. Entahlah kenapa aku bisa berada di kelas yang dipenuhi dengan orang-orang yang berego tinggi dan tak mau dikalahkan.

Masih dalam masa latihan pagelaran musik ada suatu kejadian di mana teman yang pernah berdebat tiba-tiba membuat heboh satu kelas karena dramanya. Ada hikmah dari kejadian tersebut. Apa yang ditanam pasti akan dituai. Karma itu berlaku. Sesama teman jangan sejahat itu sampai dibantai habis ketika beropini, usul pendapat dan musyawarah. Karena teman adalah orang yang paling dekat di rantau dibanding keluarga di rumah. Jadi, apa-apa yang pertama kali membantu di rantau ketika sedang berada di posisi darurat pastilah teman, kedua baru keluarga.

Memang karma itu berlaku juga pada orang-orang yang di awal semester pernah membuatku untuk belajar mengikhlaskan seikhlas-ikhlasnya atas apa yang terjadi di awal semester dan di pertengahan semester. Sekarang mereka tidak mendapatkan apa yang diinginkan dan diperjuangkannya setelah membuat aku mengikhlaskan segala hal atas apa yang terjadi. Mungkin mereka mengalami dan merasakan dua kali lipatnya dengan apa yang pernah aku alami dulu. Memang benar Allah itu maha adil, dan karma cepat atau lambat berlaku.

 

Demak, 16 Maret 2021

 

Thursday, November 12, 2020

YANG TERTINGGAL DARI SINDORO

Dua tahun lalu di bulan April tepatnya Jumat, 13 April 2018, aku dan bersama kelima Vokalers atau sebutan untuk awak LPM Vokal melakukan pendakian ke Gunung Sindoro. Kami berlima berangkat dari Semarang dan butuh waktu sekitar enam jam untuk sampai di Wonosobo. Waktu yang terlalu lama untuk tiba di Wonosobo, karena sebelumnya aku dan kawanku ketinggalan rombongan dan tidak tahu jalan. Kami tiba Jumat sore dengan langit gelap gulita dan waktu yang sudah hampir larut malam. Kami memutuskan untuk menginap semalam di basecamp via jalur Kledung. Dan memulai pendakian pada keesokan harinya.

Di sepanjang perjalanan dari Semarang menuju Gunung Sindoro, otakku dipenuhi dengan masalah-masalah seputaran dunia perkuliahan dan deadline tugas, liputan dan laporan organisasi. Semua melebur menjadi satu di kepala. Kurang lebih sebulanan aku tersiksa dengan masalah-masalah dan terlebih dengan deadline. Waktu itu bersamaan dengan tenggat waktu pengumpulan tulisan yang akan dimuat di Koran Suara Merdeka yang sebelumnya telah bekerjasama dengan pihak kampus. Namun, ya pada dasarnya aku orangnya malesan jadilah aku dikejar-kejar deadline.

Berbekal masalah-masalah dari kampus sebagai bumerang pikiran, dalam perjalanan di sepanjang kaki Gunung Sindoro, sebelum menginjakkan kaki di Pos 1, paru-paruku ku paksakan untuk menghirup udara segar Sindoro sebanyak-banyaknya. Dan menghembuskannya bersama masalah-masalah yang aku bawa dari Semarang. Pikirku, “ini waktunya untuk aku bebas.”

Ku lepaskan semua ikatan-ikatan yang beberapa bulan belakang ini menyiksaku. Dan cara itu setidaknnya cukup berhasil untuk aku menjadi waras barang beberapa hari.

Kami berlima mulai mendaki pagi sekitaran pukul 07.00 WIB. Dan sampai di Camp III sore menjelang Maghrib dan kami mendirikan tenda. Di tengah malam kami dikagetkan dengan kehadiran babi hutan yang ada di sekitaran tenda. Untungnya tidak ada barang yang jadi korban dari si babi hutan. Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari kami melanjutkan menuju puncak dan sampai di Kawasan Batu Tatah bebarengan dengan waktu Subuh.

Walaupun sebelumnya aku sudah pernah muncak, tapi bagiku pendakian menuju puncak Gunung Sindoro cukuplah sulit. Track tanjakan agak curam terlebih sewaktu dari Camp III menuju kawasan Batu Tatah. Dan di sepanjang menuju Kawasan Batu Tatah, salah satu anggota dari kami berlima mengalami mual dan muntah-muntah yang terus berulang. Kami, empat dari lima orang memutuskan untuk stay di Kawasan Batu Tatah, dan hanya satu orang dari kami berlima melanjutkan hingga sampai puncak Sindoro.

Dalam pendakian Gunung Sindoro, aku belajar bahwa adakalanya kita perlu untuk meredam ego kita daripada mengedepankan ego kita.

Sekian yang tertinggal dari Gunung Sindoro dalam ingatanku di 2020 ini.

 




Demak, 13 November 2020